Semenjak orde baru digulingkan hingga berganti masa reformasi, kasus korupsi selalu menjadi headline dan topik utama pemberitaan berbagai media massa. Rezim orde baru tumbang karena korupsi yang hingga pada akhir kejayaannya begitu mengakar dan menggurita dalam kehidupan pemerintahannya. Hingga dewasa ini, hal tersebut tak bosan-bosannya untuk dituangkan ke muka publik. Sepertinya acara berita bakal lesu penonton, jika tidak menghadirkan isu laten dan kolosal (#baca korupsi) barang satu segmen pun. Dan yang terbaru tentu saja masih berkutat (lagi-lagi) dengan korupsi. Proyek Hambalang dan pengadaan Al-Qur’an menjadi trending topic.
Korupsi secara sederhana
adalah penyelewengan atau penyalahgunaan hak (yang paling familiar biasanya berupa
mengkorupsi uang) untuk keuntungan diri sendiri ataupun orang lain. Hak disini
tentunya bukan punya si empunya, dalam artian seseorang yang melakukan korupsi
adalah mereka yang diberikan wewenang atas suatu hal namun menggunakan
wewenangnya tersebut untuk mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri. Korupsi
sendiri adalah tindakan yang merusak, baik itu merusak diri sendiri maupun
merusak sistem yang berimbas kepada orang banyak (walau efeknya tidak langsung
terasa). Itu kenapa orang yang melakukan korupsi (koruptor) selalu diberi label
bermental korup, karena mental mereka rusak sehingga abai dalam menjalankan
wewenang.
Membicarakan korupsi tidak
akan pernah ada habisnya, karena pelaku, perilaku dan akibatnya tak pernah
susut. Selalu menumbuhkan kecambah baru, tumbuh, mengakar dan kemudian
berkembang biak kembali. Ibaratkan sebuah penyakit, ia tak kunjung sembuh. Apabila
dikatakan sebagai hobi, pun begitu adanya, karena setiap hari peminatnya selalu
membludak dengan animo tinggi. Lantas mana kategori yang paling ideal?
Penyakit atau Hobi
Kita semua tentu pernah
mengalami sakit, baik itu karena penyakit kambuhan atau tertular dari rekan
maupun efek wabah yang menjangkiti. Untuk sakit akibat tertular, pasti segera
diupayakan penyembuhannya dengan berobat dan memakan obat yang tepat. Bagaimana
halnya dengan sakit kambuhan, penyakit bawaan yang turun temurun beserta gen
yang dibawa dari leluhur kita seperti asma, diabetes dkk? Jawabnya tentu saja
kita ingin mengobatinya pula hingga tuntas, agar tak melulu merongrong kesehatan. Bahkan
ingin penyakit itu lenyap selama-lamanya.
Sementara hobi, merupakan
aktivitas yang getol kita lakukan karena kita merasa terbebas dari beban
kehidupan ketika bersinggungan dengannya. Penulis sendiri menyukai dan rajin bermain
sepak bola. Karena saat berada di atas lapangan, berlari, mengejar lawan dan
menendang bola, perasaan ini begitu bebas. Lepas, mengalir mengikuti irama yang
ada tanpa terusik hiruk pikuk kehidupan yang cenderung memusingkan.
“Bagaimana halnya dengan mereka, para
koruptor?” Mereka itu tiada mampu membedakan mana hak miliknya dan mana hak
orang lain. Mengambil sana-sini. Mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya tanpa
peduli nasib orang di kiri-kanan. Katanya mereka itu sedang sakit. Sakit jiwanya.
Mentalnya korup (rusak & busuk). Namun tiada obat yang ampuh untuk mengobati
penyakit itu. Ketika seorang koruptor berhasil di kerangkeng di jeruji besi,
tabiat buruknya (#memang) hilang untuk sementara waktu. Namun kembali kambuh
pasca keluar dari hotel prodeo tersebut.
“Bagaimana pula dengan
kelakuan mereka yang hobi korupsi di sana-sini?” Meskipun dalam suatu
persidangan alat-alat bukti yang ada berhasil membuat telunjuk hakim menunjuk
dan menyatakan bersalah, namun mereka tak goyah. Membela diri dan sebaliknya malah
bersemangat untuk mengalihkan tuduhan kepada pihak lain. Sambil sibuk
memperdaya hakim tuk mengusut pihak lain yang belum tentu korupsi berjamaah,
mereka malah sibuk mengurus proyek baru yang nampaknya beraroma korupsi pula.
Lantas jikalau sudah
seperti ini, korupsi itu penyakit atau hobi ya? Atau kedua-duanya? Bagaimana dengan
diri kita sendiri? Sudahkah menyingkir dari kehidupan yang korup? Bagaimana halnya
dengan Iman kita? Apakah masih utuh dan tidak terkorupsi? Wallahu A’lam.
#reflected
Tidak ada komentar:
Posting Komentar